Tetumbuhan
Konsultasi
PencarianApa yang ingin kamu cari?
Temulawak dan tanaman tropis di kebun rumah
Ensiklopedia tanaman · Herbal, Bumbu & Obat Tradisional

Temulawak

Curcuma zanthorrhiza — Herbal asli Indonesia berdaun lebar yang menghasilkan rimpang kuning besar, sangat tangguh ditanam di pekarangan maupun pot.

FamiliZingiberaceae
Tingkat perawatanMudah
CahayaSangat Tinggi
Kebutuhan airTinggi
Catatan keamananSkala 1 dari 5

Catatan perawatan

Penempatan

Temulawak tumbuh optimal di bawah naungan tipis hingga terpapar matahari langsung sepanjang hari. Di iklim tropis Indonesia yang terik, tanaman ini menyukai area yang mendapat sinar matahari pagi langsung selama 4 hingga 6 jam. Jika ditanam di tempat yang terlalu teduh, pertumbuhan rimpangnya menjadi kurang maksimal dan daunnya cenderung tumbuh terlalu tinggi serta lemas (etiolasi). Anda bisa menanamnya langsung di tanah pekarangan atau menggunakan pot besar berdiameter minimal 40 cm agar rimpangnya bebas berkembang.

Penyiraman

Kebutuhan air temulawak tergolong sedang. Pada musim kemarau, lakukan penyiraman satu kali sehari di pagi atau sore hari untuk menjaga kelembapan tanah. Pastikan air menyerap dengan baik dan tidak menggenang. Memasuki musim hujan, kurangi frekuensi penyiraman secara drastis, bahkan Anda tidak perlu menyiramnya sama sekali jika curah hujan tinggi. Kelembapan yang terlalu tinggi di area perakaran dapat memicu pembusukan rimpang dengan sangat cepat.

Media dan nutrisi

Tanaman ini menyukai media tanam yang gembur, remah, kaya bahan organik, dan memiliki drainase yang sangat baik. Campuran tanah topsoil, pupuk kandang matang atau kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 2:1:1 sangat ideal. Hindari penggunaan tanah liat murni karena dapat menahan air terlalu lama. Untuk nutrisi, berikan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang setiap satu bulan sekali selama masa pertumbuhan aktif untuk merangsang pembesaran rimpang.

Perawatan rutin

Perawatan temulawak cukup sederhana. Bersihkan gulma di sekitar tanaman secara berkala agar tidak berebut nutrisi dan ruang tumbuh. Pangkas daun-daun tua yang mulai menguning atau kering agar penampilan tanaman tetap rapi dan merangsang pertumbuhan tunas baru. Saat tanaman memasuki fase dormansi (biasanya ditandai dengan daun yang mengering seluruhnya pada akhir musim kemarau), hentikan penyiraman dan pemupukan karena ini adalah tanda rimpang siap dipanen atau sedang beristirahat.

Masalah yang perlu dipantau

Waspadai penyakit layu bakteri dan busuk rimpang yang sering menyerang saat drainase media buruk atau saat curah hujan sangat tinggi. Gejalanya ditandai dengan daun yang layu mendadak meskipun tanah basah. Selain itu, perhatikan keberadaan ulat penggulung daun dan belalang yang kerap merusak estetika daun. Atasi serangan hama secara manual atau gunakan pestisida organik berbahan mimba jika tingkat kerusakannya mulai mengkhawatirkan.

Catatan keamanan

Temulawak umumnya sangat aman ditanam di lingkungan rumah dan tidak memiliki catatan toksisitas yang membahayakan manusia maupun hewan peliharaan jika tidak sengaja tersentuh. Meskipun demikian, konsumsi rimpang mentah dalam jumlah berlebih oleh hewan peliharaan seperti kucing atau anjing sebaiknya dihindari untuk mencegah gangguan pencernaan ringan. Selalu cuci bersih rimpang sebelum diolah untuk membersihkan sisa tanah dan mikroba.

Kegunaan

Selain menghasilkan rimpang yang bermanfaat untuk bahan minuman tradisional, temulawak juga dapat mempercantik sudut taman dengan daunnya yang lebar dan hijau segar.

Masalah umum

Masalah yang sering muncul adalah rimpang yang membusuk akibat media tanam terlalu becek, serta serangan ulat pemakan daun pada musim hujan.

Catatan keamanan

Skala keamanan adalah penanda kehati-hatian awal untuk rumah dengan anak kecil atau hewan peliharaan. Jika tanaman tertelan atau menimbulkan reaksi, hubungi tenaga kesehatan atau dokter hewan.

Lanjut membaca

Cari tanaman lain

Telusuri Kamus Tanaman.

Cari berdasarkan nama Indonesia, nama ilmiah, famili, atau kategori.

Buka Kamus Tanaman